Cerpen Sedih Cinta Paling Galau

Cerpen Sedih ini sangatlah menyentuh sekali sampai menusuk kedalam jantung dan perasaan terdalam kita. Sering kita baca dalam sebuah cerpen biasanya ada berupa kata romantis tapi kali ini kalian tidak akan menemukannya pada cerpen kali ini.

Kali ini kukejar akan memeberikan kumpulan cerpen sedih yang bisa menjadi bacaan yang romantis dan mengharukan dari berbagai sumber media online. Kategori ini masuk kedalam cerpen cinta tapi mengisahkan sesuatu yang sedih-sedih.

Karena peminat yang ingin membaca dari cerita pendek semakin banyak maka banyak di cari-cari orang-orang mulai dari remaja sampai orang tua. Okelah langsung saja ini dia cerpen sedih banget yang menyentuh sekali.

Cerpen Sedih

Cerpen Sedih

"Pupus"
Cerpen Karangan: Ichsan Al Katiri
Facebook: Ichsan Zobo

Dalam kamar yang berukuran 2 x 3 meter dengan dinding yang masih terbuat dari papan yang sudah tidak baru lagi, seorang perempuan dengan rambut terurai dan wajah yang dibenamkan dalam bantal itu masih juga belum menyudahi isak tangisnya. Sudah tidak terhitung lagi air mata yang dia keluarkan. Sudah tidak terhitung lagi waktu yang dia habiskan untuk mengurung diri. Sudah tidak terhitung lagi ketukan sang ibu yang memintanya untuk segera keluar kamar.

Sakit . Mungkin hanya itu yang bisa dia rasakan. Rasa sakit yang begitu melukai hatinya hingga keluar dalam derai air mata. Derai air mata yang tidak kunjung berhenti. Karena dia sendiri tidak tahu siapakah yang mampu menghentikan derai air mata ini.

Dia bangun dari pembaringannya. Matanya terasa begitu pegal karena sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata. Rambutnya semakin kusut dan acak acakan. Sesekali isak tangis masih dia keluarkan.

Di depan cermin dia tatap tubuhnya. Cermin yang selalu menjadi teman setianya saat dia merias diri, cermin yang selalu menjadi curahan kebahagiaannya, cermin yang selalu dia lihat ketika terbangun dari alam mimpi kini hanya mampu menatapnya dengan kesedihan. Bagaimana tidak, sang dewi kecantikan telah kehilangan aura kecantikannya. Dewi kecantikan telah kehilangan kebahagiaannya. Dewi kecantikan tengah berkubang dalam lumpur duka dan derai air mata.

Wajahnya semakin pucat. Dengan bekas air mata yang masih terlihat di pipinya. Semangatnya semakin pudar. Harapan untuk menatap masa depan seakan hilang bersama dengan hilangnya mentari yang termakan gelapnya malam.

“ Safitri keluar nak, ibu khawatir sama kamu. Sudah hampir setengah hari kamu mengurung diri. Apa kamu tidak kasihan sama ibu. Ayo keluar nak?” kata sang ibu dari depan pintu.

Namun yang ditanya masih saja diam. Dia tidak menghiraukan permintaan ibunya untuk segera ke luar kamar. Rasa sakit yang dia rasakan membuat dirinya enggan untuk menemui ibunya. Apalagi sesekali masih terdengar suara ayahnya yang belum juga berhenti mengatakan dirinya sebagai anak yang tidak tahu diri. Anak yang tidak tahu balas budi. Anak yang tidak mau menuruti perintah orang tuanya.

Merasa perkataannya tidak ada jawaban, akhirnya sang ibu kembali ke tempat duduknya. Sebuah kursi kayu yang berada di ruang makan.Dan di ruang inilah awal sakit hati anaknya di mulai. Sakit hati yang bersumber dari sebuah keegoisan diri sang kepala rumah tangga.

“ Pak bagaimana ini, anak kita belum juga mau keluar kamar” kata sang ibu.
“ Sudahlah bu, kita biarkan saja. Nanti kalau sudah bosan dia juga mau keluar sendiri” jawab sang ayah.
“ Tapi pak, ibu khawatir kalau terjadi apa apa dengan safitri. Apalagi usia safitri masih sangat muda, ibu takut dia berbuat nekat” lanjut sang ibu.
“ Ibu tenang saja, biarkan dia seperti itu dulu. Kalau pikirannya sudah tenang mungkin dia mau keluar dan berbicara dengan kita lagi” jawab sang ayah.

Jawaban sang ayah tidak mampu menghilangkan kecemasan sang ibu. Terlebih safitri adalah anak pertama dan satu satunya. Dia adalah harapan bagi ibu dan bapaknya. Namun apa hendak dikata. Sang ibu hanya bisa pasrah. Dan hanya bisa berdo’a semoga anaknya mau keluar dan menemuinya.

Di dalam kamar perempuan yang bernama safitri itu masih juga diam di depan cermin. Pembicaraan di antara kedua orang tuanya sudah tidak dia hiraukan lagi. Pikirannya melayang jauh pada sebuah masa lalu yang indah. Dan terus melayang hingga sampai pada sebuah kejadian yang sangat menyakitkan.

“ Mas yusuf andai saja mas ada disini tentu aku tidak akan merasakan sakti seperti ini” gumamnya.
Dia buka laci meja riasnya. Disitu ada setumpuk surat yang sudah terlihat kusam karena sering dibuka. Dia keluarkan tumpukan surat itu. Dia buka dan dia baca satu persatu. Ada enam buah surat yang dia kumpulkan. Semua surat itu adalah surat dari yusuf, orang yang paling dia cintai dan sekarang sedang meninggalkan dirinya jauh di perantauan.

Safitri mungkin sudah hafal dengan semua isi yang ada di dalam surat itu. Namun walaupun begitu safitri tidak pernah merasa bosan untuk mebaca surat surat dari yusuf. Karena dengan membaca surat surat itu kerinduannya dapat sedikit terobati. Rasa sakit yang sedang menyelimuti dirinya bisa sedikit berkurang.

“ Dik, mas harap adik mau menunggu ku pulang”
Itulah kata terahir yang ditulis dalam surat yusuf yang terakhir. Sudah hampir enam bulan yusuf tidak lagi mengirim surat. Harapan dan impian safitri untuk segera berjumpa dengan yusuf mungkin harus pudar terhempas waktu.

Safitri kembali menitikkan air mata. Surat surat dari yusuf dia cium dan dia peluk erat erat. Seakan akan dia tengah memeluk tubuh yusuf yang datang untuk menghilangkan kesedihannya.

Harapan mungkin kini tinggal harapan. Impian yang selalu bernaung dalam angan safitri mungkin harus dia kubur dalam dalam. Keinginan safitri untuk bersanding dengan orang yang dia cintai mungkin harus dia buang jauh jauh. Karena kini orang yang dia cintai tidak kunjung menampakkan diri. Orang yang paling di rindu tidak kunjung mengembalikan sayap kerinduannya. Hingga akhirnya kumbang lain menghampirinya dan mencoba menghisap madu keindahan dari dirinya.

Andai saja waktu dapat diputar kembali, mungkin safitri memilih untuk pergi bersama yusuf. Ketika satu tahun yang lalu yusuf mengajak dirinya untuk pergi bersama merantau ke luar kota. Mungkin dengan begitu hidupnya tidak akan merasakan kesedihan seperti ini. Namun apa hendak dikata, kedua orang tuanya melarang keras keinginan safitri. Dan meminta safitri untuk berdiam di rumah. Menemani ibu dan bapaknya.

Dan kesedihan safiri dimulai. Sebagai seorang mawar yang sedang memancarkan keindahan tentu tidak luput dari incaran para kumbang yang menginginkan keindahannya. satu persatu kumbangpun datang berkunjung ke rumahnya. Menanyakan apakah dirinya mau untuk dipersunting mereka. Dan hari hari yang safitri harus dipenuhi dengan kebimbangan dan kesedihan.

Safitri ingin memegang janji yang dulu pernah dia patri bersama yusuf. Janji sepasang anak manusia yang tengah di mabuk cinta. Janji yang membuat kehidupan safitri dipenuhi bunga keindahan. Namun janji itu juga yang membuat hati lestari diliputi kerinduan dan keraguan.

“ Mas yusuf, apakah mas juga masih memegang janji itu?” gumam safitri.
Safitri masih saja terdiam. Dia pandang wajahnya dalam cermin. Dia renungi setiap perjalanan waktu yang dia lalui. Dia resapi perkataan bapaknya yang membuat dirinya semakin sakit hati. Perkataan yang membuat dirinya merasa tersudut dan seakan menanggung beban kesalahan yang begitu besar.

“ Fitri, kamu sungguh telah mencoreng nama baik bapakmu ini. Sudah berapa kali bapak menolak lamaran yang datang kesini. Sudah berapa kali bapak menanggung malu karena sikap keras kepalamu itu. apa kamu mau membunuh bapak secara perlahan dengan membuat bapak malu kepada semua orang?” kata bapaknya safitri

“ maaf pak, bukan maksud fitri membuat bapak malu. Tapi fitri sungguh tidak ada yang suka dengan mereka. Lagipula fitri juga belum ingin menikah. Fitri masih ingin sendiri dulu” jawab fitri.

“ tidak ada yang suka kamu bilang. Apa mereka yang datang kesini tidak ada yang menarik hatimu. Coba kamu hitung sudah tiga kali bapak menolak lamaran. Dan haruskah bapak menolak lamaran yang keempat karena sikapmu itu. mau ditaruh dimana muka bapakmu ini. Santoso yang jelas jelas anak orang terpandang didesa kita ini apakah akan kamu tolak juga”.

“ maaf pak, fitri benar benar tidak cinta dengan santoso. Bukankah pernikahan harus didasari dengan rasa cinta. Apa fitri salah bersikap seperti itu?”

“ cinta cinta. Tahu apa kamu soal cinta. Apa cinta yang membuat kamu tidak menurut kepada bapakmu ini. Apa cinta yang membuatmu tega mempermalukan bapak seperti ini. Cinta itu bisa didapat saat kamu sudah berumah tangga fitri”

“ tidak pak, bagi fitri rumah tangga harus dibangun atas dasar cinta yang kuat. Apa bapak bisa menjamin kalau fitri menikah dengan orang yang tidak fitri cintai kehidupan fitri akan bahagia. Apa bapak tega hanya demi terbebas dari gunjingan masyarakat mengorbankan perasaan fitri. Apa bapak tega melihat rumah tangga fitri tidak bahagia nantinya”

“ selalu saja itu yang kau katakan fitri. Bapak sudah bosan mendengar alasanmu itu. setiap kali ada orang yang datang melamar kesini selalu itu yang menjadi alasanmu. Sebenarnya apa yang membuat kamu bersikap seperti itu. apa jangan jangan sudah ada orang lain yang kamu cintai?”

Safitri hanya diam. Pertanyaan bapaknya mampu membungkam mulutnya. Perlahan sosok yusuf yang sangat dia rindu mulai hadir dalam pikirannya.

“ fitri, atau jangan jangan kabar yang dulu pernah beredar tentang hubungan kamu dengan yusuf benar. Apa karena alasan itu kamu menolak semua lamaran yang datang kesini?”

Safitri terdiam. Butuh kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. memang benar karena alasan itulah safitri menolak semua lamaran yang datang kepadanya. Tapi selama ini masih dia sembunyikan dari bapaknya.

“ jawab fitri” bentak bapaknya.
“ iya pak, mas yusuf lah yang menjadi alasan fitri. Fitri cinta sama mas yusuf, begitu juga dengan mas yusuf. Dan mas yusuf berjanji kalau sudah pulang akan menikahi lestari” jawab safitri.
“ buhhhh, yusuf rupanya yang membuatmu seperti ini” bentak bapaknya.

“ pak tolong mengerti fitri. Fitri cinta sama mas yusuf. Fitri berharap mas yusuf lah nantinya yang akan menjadi pendamping hidup fitri” kata safitri.

“ yusuf, yusuf. Siapa itu yusuf. Dia hanya seorang pemuda desa yang mencoba mengadu nasib ke luar kota. Apa kamu yakin setelah yusuf pulang akan benar benar melamarmu. Apa kamu yakin yusuf tidak akan berpaling ke wanita lain. Terlebih kehidupan kota sangat bebas sungguh berbeda dengan kehidupan di desa kita ini. Fitri, kalau yusuf benar benar mencintaimu tentu dia akan segera pulang dan melamarmu. Tapi buktinya hampir satu tahun dia merantau sampai saat ini belum pulang juga untuk memenuhi janjinya itu. perlu kamu tahu fitri, kamu itu hidup di desa. Kalau kamu hidup di kota, perempuan seusia kamu belum menikah itu tidak menjadi masalah. Tapi ini desa tari. Lihat usia kamu sudah hampir dua puluh tahun. Sudah banyak perempuan seusiamu yang menikah bahkan sudah ada yang mempunyai anak. Apa kamu tidak malu menjadi bahan gunjingan warga?”

“ bapak, fitri tahu semua itu pak. Tapi apakah salah fitri menikah dengan orang yang fitri cintai. Bukankah sesuatu yang terpaksa tidak baik untuk dilakukan. Biarkan saja warga membicarakan fitri. Yang penting fitri ingin tetap menunggu mas yusuf dan fitri yakin mas yusuf tidak akan berpaling ke perempuan lain” jawab safitri.

“ kamu….” Bentak bapaknya safitri sambil mengangkat tanganya untuk menampar safitri.

Namun ibu safitri langsung bertindak cepat. Dia pegang tangan sang bapak dan mencoba untuk menenangkannya.

“ sabar pak. Kita beri waktu lagi kepada fitri untuk berpikir” kata sang ibu.

“ baiklah fitri bapak kasih kamu waktu untuk berpikir. Tapi kalau sampai santoso dan keluarga datang kesini untuk melamar kamu, kamu masih bersikeras untuk menolak lamaran itu, lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini “ bentak sang bapak.

Safitri tersentak. Kata kata bapaknya yang terahir sungguh sangat menyakiti dirinya. Dia semakin terpojokkan dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Akhirnya safitripun berlari ke dalam kamar dengan derai air mata yang semakin membasahi pipinya.

Kejadian beberapa jam lalu itulah yang membuat safitri mengurung diri di dalam kamar. Mendung kesedihan terus menyelimuti dirinya. Hingga kini saat safitri berdiam diri di depan cermin kesedihan itu belum mampu hilang dari pikirannya.

Safitri ingin berteriak. Mengadukan kesedihan yang dia rasakan. Namun kemanakah dia akan mengadu. Siapakah yang dia jadikan tempat meluapkan semua kesedihannya itu. siapakah yang akan membela dirinya saat semua orang seakan menyalahkan dan menyudutkan dirinya.

Yusuf. Kemanakah yusuf. Apakah dia yang jauh dari lestari masih memegang cintanya kepada safitri. Apakah dia juga merasakan kesedihan yang safitri rasakan. Ataukah dia telah berbahagia dengan perempuan lain dan melupakan janjinya kepada safitri.

Semua pertanyaan itu hanya semakin membuat lestari bingung. Keputusannya yang berusaha untuk memegang janji setia dengan yusuf ternyata justru menimbulkan kesedihan yang tidak kunjung berahir. Bahkan membuat bapaknya sendiri begitu marah dengan dirinya. Haruskah cinta safitri kandas di tengah jalan. Haruskah bait bait cinta yang telah tertanam hanya meninggalkan gurat gurat kesedihan. Haruskah harapan dan impian safitri pupus dan lenyap bersama hilangnya mentari di hari ini?

Nah demikian ulasan Cerpen Sedih Paling Galau kali ini, update selanjutnya akan di posting kedepannya. terimakasih sudah membaca..!!
Cerpen Sedih Cinta Paling Galau | Kadege Clasher | 5